Di salah satu sudut Kota Lama Semarang, Tepatnya di gedung Monod Diephuis & Co pada tanggal 17 Desember 2017, telah diadakan sebuah Festival sebagai wujud penyampaian aspirasi budaya lokal yang harus tetap dilestarikan. Festival Komukino, itulah nama festival yang diadakan oleh USM (Universitas Semarang) dengan mengangkat sebuah budaya lokal agar dapat dikenal oleh masyarakat luas. Sekarang ini pemahaman sebuah budaya lokal masih kurang menarik bagi anak – anak remaja jaman sekarang, baik dari segi pengemasan maupun penyampaian dari media yang kurang dapat di pahami oleh generasi modern ini

     Fetival Komukino merupakan sebuah gelaran tahunan Jurusan Ilmu Komunikasi USM dengan bertemakan ‘JatengGayeng’ sebagai sebuah fondasi utama dari festival ini. Komukino di tahun ke 6 ini mengangkat segala hal yang beraromakan tradisional baik dari makanan, tradisi seni batik, serta mainan tradisional yang sekarang ini sudah hampir punah dan tergerus perkembangan jaman.

     Fajrinoor Fananni selaku Pembimbing Mahasiwa USM dari Komukino Festival berpendapat bahwa Komukino Festival ini bermula dari singkatan Komunikasi dan Inovasi yang pada awalnya tidak ingin hanya menjadi sebuah ekskul atau kuliah klasikal saja, akan tetapi dapat menjadi sebuah praktik langsung dalam komunikasi pemasaran. Dalam pengembangan berikutnya, Komukino Festival ini menjadi sebuah kolaborasi dari berbagai implementasi kerja nyata dari tiga mata kuliah, yakni Komunikasi Pemasaran, Management Acara, dan Internal dan Eksternal Public Relation.

Perahu kotok - kotok yang berada di Kampung Dolanan Festival Komukino     “Di Festival Komukino yang ke-6 ini banyak terdapat stand – stand bazar tradisionalbaik dari makanan, batik tradisional, hingga mainan tradisional yang bersumberdari 6 Karisidenan di Jawa Tengah. 6 Karisidenan Jawa Tengah seperti Karisidenan Semarang, Banyumas, Pati, Surakarta, Kedu, Pekalongan, tersebut memiliki berbagai macam budaya yang perlu di kenal secara luas oleh masyarakat umum. Tak lupa juga dalam Komukino Festival ini banyak berbagai hal baru yang menarik seperti uang kartal (sebagai mata uang transaksi di Komukino Festival) serta Papan Puzzle Foto bapak Ganjar dan bapak Hendi, yang mana di samping Papan tersebut terdapat Papan Harapan dari masyarakat luas demi perkembangan Jawa Tengah dan sekitarnya di tahun 2018”, kata Aji Yusup selaku ketua panitia dari Komukino Festival.

Papan Harapan dari masyarakat umum

     Eza Desinta Perwakilan Internal Eksternal Public Relation Komukino Festival menambahkan “bahwa dalam Komukino Festival juga di laksanakan sebuah charity dalam bentuk sumbangan 500 buku yang didapatkan melalui perpustakaan, mahasiswa serta masyarakat umum dan nantinya buku – buku yang telah terkumpul akan di sumbangkan kepada Komunitas Harapan Semarang dan Omah Sinau Batang. Hingga sekarang ini jumlah buku yang akan di sumbangkan sudah melebihi harapan yang diinginkan, yakni sekitar kurang lebih 1500 buku. Tidak hanya buku saja, akan tetapi charity dalam bentuk uang atau materi juga menjadi bentuk charity dari Komukino Festival. Penghasilan charity yang dilakukan oleh pihak Komukino Festival dari 3 festival yang terdapat didalamnya, yakni Festival Batik masal, Fetival Kuliner Tradisional serta Festival Kampung Dolanan nantinya akan diserahkan kepada Panti Asuhan Al – Rifah Semarang dan Panti Sosial Anak Asuh Kyai Ageng Semarang.”